Gubernur dan Wagub HMJ di Polinela Ungkap Permasalahan Selama Kuliah Daring

Suasana saat diskusi berlangsung, Rabu (11/8/2021)

Suasana saat diskusi berlangsung, Rabu (11/8/2021)

Sukma_Polinela;  Kementrian Kajian Strategi dan Aksi (Kastragsi) Badan Esekutif Mahasiswa (BEM) Politeknik Negeri Lampung (Polinela) mengadakan diskusi terbuka untuk seluruh Mahasiswa Polinela. Diskusi tersebut perihal Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang dilaksanakan secara online melalui Zoom, Rabu (11/08/2021).

Dengan tema “Pandemi Semakin Meradang UKT pun Ikut Datang”. Tujuan diskusi sebagai pemantik perihal UKT. Diskusi dipimpin oleh Putra Khairullah (Staf ahli Kajian Strategi dan Aksi) dengan beberapa pembicara yaitu Virda ayu (Wakil Gubernur (Wagub) Himpunan Mahasiswa jurusan (HMJ) Teknologi Pertanian (Tektan)), Riky Darmawan (Wagub HMJ Kebun), Randi Rais A (Gubernur HMJ Pangan), Khoerudin Saputro (Gubernur HMJ Ternak), Bagus Apriyanto (Gubernur HMJ Ekonomi dan Bisnis (Ekbis)).

Virda mennyampaikan beberapa permasalahan bagi mahasiswa yang ada di Jurusan Tektan. Ia menuturkan bahwa disaat situasi pandemi seperti ini banyak pendapatan orang tua mahasiswa yang menurun drastis.

“Sekarang juga kan PPKM jadi makin berdampak. Sedangkan fasilitas kurang optimal saat daring seperti ini,” tambahnya.

Dalam diskusi tersebut, Virda juga mengeluhkan perihal Learning Management System (LMS) yang digunakan mahasiswa Polinela untuk kegiatan pembelajaran. Menurutnya laman tersebut acapkali mengalami down server. Ditambah lagi dengan durasi pengaksesan absen di LMS yang dinilainya sangat cepat.

Sementara itu, Riky Darmawan, mengutarakan beberapa permasalahan yang ada pada Jurusan Budidaya Tanaman Perkebunan “Permasalahannya seperti sistem pembelajaran yang kurang efektif, apalagi untuk mahasiswa perkebunan yang seharusnya lebih banyak terjun langsung ke lapangan,” ungkapnya.

Ia juga menjelaskan masalah lain, seperti penyaluran subsidi kuota Rp 150 ribu yang belum merata disetiap bank mahasiswa jurusan perkebunan. Lalu, terkait UKT yang dinilainya memberatkan untuk di masa sekarang. Lalu, keluhan lainya yang berasal dari mahasiswa tingkat akhir yang meminta untuk diadakannya wisuda secara offline.

Hal tersebut selarasa dengan yang disampaikan Randi Rais, Bagus Apriyanto, dan Khoerudin Saputro.

“Permasalahannya sama dengan yang dialami oleh jurusan lain,” kata Khoerudin saat di wawancari melalui WhatsApp (11/8/2021).

Sebelumnya, HMJ Ekbis pernah membuat Google Form yang digunakan sebagai survei mahasiswa Jurusan Ekbis. Berdasarkan survey tersebut, Bagus Apriyanto menyimpulkan permasalahan yang terjadi seperti kendala sinyal, kuota gratis yang diberikan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

“Beberapa bulan yang lalu itu sempat ada kuota dari Kemendikbud tapi berhenti,” ungkap Bagus Apriyanto.

Menurutnya, ini membuat mahasiswa mengeluarkan  biaya lebih secara mandiri untuk keperluan kuotanya.

“Padahal teman-teman itu kan bayar, tapi dari pihak kampus sendiri belum ngasih kebijakan lagi tentang bantuan kuota ini,” kata Bagus.

Bagus juga mengungkapkan permasalahan lainnya di Jurusan Ekbis, ia mengeluhkan terkait praktik yang selalu dilakukan secara dalam jaringan (daring).

“Vokasi kan lebih besar praktiknya, kalau daring gini jadi sama aja kayak teori saja. Ini bikin nggak maksimal nyerap ilmunya,” ucapnya.

Masih dikeluhkan Bagus, perihal fasilitas untuk praktikum, “Kalau offline bahan-bahan praktik kan disediakan oleh pihak kampus. Saat daring  mahasiswa harus beli secara mandiri untuk memenuhinya,” jelasnya.

Ia menjelaskan,  banyak mahasiswa yang tidak memiliki laptop. Kalaupun ada, menurutnya, laptop tersebut dipakai secara bersama. Sehingga hal itu dinilai akan berpengaruh terhadap proses pembelajaran mahasiswa.

Muhamad Fadil Akbar, Presiden Mahasiswa (Presma) Polinela mengatakan, “Mengenai berbagai macam polemik yang ada di tiap jurusan harus segera diselesaikan bersama,” ungkapnya

Fadil melanjutkan bahwa tindak lanjut berikutnya yaitu mensurvei dan mengkaji permasalahan tersebut. Sehingga nantinya akan disampaikan kepada pihak Direksi.

“Harapannya kedepan tidak hanya bantuan UKT dari Kemendikbud tetapi ada bantuan yang bisa membuat mahasiswa ini merasakan dampak positif dari kebijakan polinela khususnya keringanan UKT dan bantuan lainnya,” ujarnya saat diwawancarai melalui Whatsapp (11/8/2021).(*Wyn)

 

Reporter : Leo Pradana

            Mutiara Salsabila

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *