Bagaimana Proses Demokrasi Tercederai?

Opini by: Yongki Davidson (Presiden Mahasiswa Polinela 2020).

Sukma_Polinela; Sebuah kampus sering disebut juga sebagai miniatur negara. Struktur organisasi mahasiswa di dalam kampus yang membuatnya mirip dengan struktur pemerintahan Negara walaupun tidak mutlak semuanya.

Ada beberapa lembaga di negara yang tidak ada di kampus, juga fungsi-fungsinya yang tidak relevan. Tapi dalam beberapa hal ada kesamaan antara kampus dan Negara. Seperti dalam tatanan kepemerintahan, kampus mempunyai pemimpin mulai dari ruang lingkup fakultas (lokal/daerah) hingga ke tingkat universitas (nasional).

Seperti halnya teori trias politica yang dianut oleh negara kita ini. Kampus juga menganut teori ini dalam pemerintahannya yaitu eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Walaupun ya mayoritas kampus di Indonesia belum memiliki lembaga yudikatif namun ada beberapa kampus yang menerapkannya.

Biasanya pada akhir Desember banyak lembaga kemahasiswaan yang melakukan re-organisasi atau pergantian kepengurusan baru. Pun halnya sama seperti di Politeknik Negeri Lampung (Polinela). Saat ini, KBM Polinela sedang mengadakan Pesta demokrasi atau lebih dikenal dengan Pemilihan umum raya (PEMIRA). Mulai dari pemilihan calon legislatif mahasiswa, Gubernur Jurusan, bahkan Presiden dan wakil presiden mahasiswa.

Banyak sekali fenomena menarik yang terjadi pada PEMIRA tahun ini. Bermula dari pemecatan ketua panwasra dan diikuti dengan pemecatan ketua dan wakil ketua pansus. Pemecatan tersebut terjadi karena adanya indikasi-indikasi kecurangan yang dilakukannya.

Saat ini proses tahapan kampanye dari masing-masing calon presiden dan wakil presiden sedang berjalan. Ada kejadian menarik mengenai kampanye kali ini. Banyak sekali presma-presma yang sudah selesai melakukan tugasnya berpihak kepada salah satu paslon.

Hal ini justru akan menimbulkan sekte-sekte mahasiswa nantinya, hal yang tentunya sangat kita hindari. Kelakuan tersebut sangat disayangkan, seharusnya Presma-Presma yang sudah purna tugas dapat memberikan masukan ataupun sumbangsih saran kepada calon penerusnya.

Seyogyanya mereka harus mendukung semua paslon karena para paslon itu lah yang nantinya akan melanjutkan estafet kepemimpinan yang ada di Polinela.

Melalui ilmu yang dimilikinya, seharusnya mampu menunjukkan sikap independensi mereka. Posisi ini berfungsi sebagai kontrol yang mampu mencerdaskan mahasiswa supaya jangan mudah dimobilisasi untuk kepentingan sekte-sekte tertentu.

Dengan kemampuan intelektual dan organisasinya, seharusnya dapat mencerahkan mahasiswa untuk memahami fungsi dari PEMIRA yaitu sebagai alat dan jalan untuk kehidupan berpolitik yang lebih baik, berdemokrasi yang baik dan pelayanan berbasis pengabdian.

“Politik bukan teknik untuk berkuasa melainkan teknik untuk mengabdi,” -Johannes Leimena.(*ItaTy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *