Tingkatkan Kapasitas, RuKo-AJI Bandar Lampung Gelar Webinar Kopi-Hutan

PENGURUS AJI Bandar Lampung dan pegiat RuKo sedang mendiskusikan konsep webinar di Rumah Belajar, Gunung Terang, Kecamatan Langkapura, Bandar Lampung, Selasa, 7/7/2020 | dok. AJI Bandar Lampung.

BANDAR LAMPUNG – Rumah Kolaborasi (RuKo) bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Bandar Lampung akan menggelar sebanyak empat webinar pada Juli dan Agustus 2020. Web seminar itu bertajuk kopi dan perhutanan sosial.

Koordinator RuKo Warsito mengatakan, belakangan ini, deforestasi dan perubahan iklim menjadi isu lingkungan yang sering dibicarakan. Fenomena itu berdampak terhadap keberlangsungan dan kelestarian hutan, antara lain dengan adanya budi daya kopi. Kopi merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu (HHBK).

“Lampung merupakan tempat perkebunan kopi rakyat terbesar kedua setelah Sumatra Selatan. Luas perkebunan rakyat di Lampung mencapai 161.416 ha, dengan produksi 116.345 ton atau produktivitas 831 kg/ha,” kata Warsito melalui siaran pers yang diterima anggota UKM Pers Sukma, Selasa, 7/7/2020.

Menurut mantan Kepala Dinas Kehutanan Lampung itu, sebagian dari petani kecil berkebun kopi di kawasan hutan atau areal lindung (register). Sebagian menjalankan skema izin kelola perhutanan sosial dan kemitraan pengelolaan hutan dengan masyarakat sekitarnya. Umumnya, mereka menanam kopi robusta itu tanpa atau minim naungan dan tanpa perawatan yang memadai. Akibatnya, produktivitas hasil panen kopi rendah dan daya dukung hutan perlahan menurun, sehingga memicu konflik kepentingan.

“Untuk mewujudkan kelestarian hutan dan kesejahteraan masyarakat di tingkat tapak, Provinsi Lampung membentuk 17 Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Kesatuan Pengelola Hutan (KPH). Dari 17 KPH, sebanyak empat KPH yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS),” ujarnya.

Saat ini, lanjut Warsito, fungsi TNBBS sebagai rumah bagi satwa liar dan wilayah tangkapan hujan mengalami ancaman dan tekanan akibat meningkatnya populasi, permintaan komoditas pertanian, dan dinamika politik lokal. TNBBS juga semakin rentan karena perambahan, illegal logging, dan perburuan yang menyebabkan deforestasi dan degradasi hutan yang pada gilirannya meninggalkan Daerah Aliran Sungai (DAS) Sekampung menjadi DAS kritis. Tekanan ini makin kuat karena rencana tata ruang tidak sinkron dan sinergis dengan zonasi, dan ditambah lagi dengan terbatasnya polisi hutan yang bertugas memantau kegiatan perlindungan dan pengamanan hutan.

Masalah lain adalah tumpang tindih dalam hal perencanaan dan pengelolaan zona penyangga dan hutan. Selain itu, belum ada pengelolaan terintegrasi dari zona penyangga Bukit Barisan Selatan (BBS). Semua ini membuat pengelolaan hutan belum berjalan dengan baik dan konflik kepentingan hutan tetap tidak tersentuh.

“Kami bekerja sama dengan AJI Bandar Lampung dalam penyelenggaraan webinar ini. Media massa dan para jurnalis diharapkan dapat menjadi penyambung ke sektor luar untuk mendukung kegiatan di zona penyangga TNBBS,” kata dia.

Ketua AJI Bandar Lampung Hendry Sihaloho menambahkan, web seminar ini bagian dari peningkatan kapasitas bagi para jurnalis. Jurnalis dituntut memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas. Hal tersebut dapat mendorong kualitas karya jurnalistik seorang jurnalis.

“Jurnalis mesti terus-menerus mengembangkan dirinya. Selain menambah pengetahuan, jurnalis juga dapat memperluas network (jaringan) melalui webinar tersebut,” ujar Hendry.

Selain AJI, RuKo menggandeng sejumlah lembaga dalam penyelenggaraan webinar itu, yakni Rainforest Alliance (RA) dan Kedutaan Belanda terkait dengan program SCALA-BBS (Sustainable Coffee Action In Landscape Bukit Barisan Selatan. Web seminar ihwal lingkungan ini juga didukung oleh Unit Kegiatan Penerbitan Mahasiswa (UKPM) Teknokra Universitas Lampung (Unila) dan Suara Kreativitas Mahasiswa (Sukma) Politeknik Negeri Lampung (Polinela). Nantinya, webinar itu disiarkan langsung melalui akun Youtube AJI Bandar Lampung dan Teknokra.

Webinar perdana pada Sabtu mendatang, 11 Juli 2020, pukul 13.00-15.00 WIB. Temanya, “Peluang, Ancaman, Tantangan, dan Kekuatan Kopi Robusta Lampung menghadapi New Normal.”

Webinar kedua, “Budi Daya Kopi Ramah Lingkungan di Kawasan Hutan Sosial di Lampung”, Sabtu, 25 Juli 2020, pukul 13.00-15.00 WIB. Webinar ketiga, “Pemanfaatan Energi Panas Bumi untuk Agribisnis”, Sabtu, 1 Agustus, pukul 13.00-15.00 WIB. Webinar keempat soal “Kopi di Mata Milenial Lampung”, Sabtu, 15 Agustus 2020, pukul 13.00-15.00 WIB.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *