Beras Organik Terobosan Baru Para Petani

Reporter : Stephani Yolanda, Dona Rizky Lovantineya, Siti Rukhayah

Sukma_Polinela; Politeknik Negeri Lampung (Polinela) terus berupaya dalam mengembangkan terobosan baru dalam sektor pertanian. Terhitung sejak Juni 2018 Polinela telah meningkatkan perekonomian petani di Lampung Selatan. Polinela membina para petani, sehingga beras organik mulai masuk pasar modern yang sebelumnya telah merambah pasar tradisional. Sejak 5 tahun yang lalu yakni tahun 2013 petani Desa Candipuro, Sidomulyo, Lampung Selatan mulai membudidayakan padi atau beras organik dengan sistem Sistem Rice Intencification (SRI). Para petani pada awalnya kesulitan dalam proses pemasaran beras organik. Masalah ini disebabkan kurangnya minat dari masyarakat akan beras organik dikarenakan harganya yang relatif lebih mahal. Petani juga disulitkan dengan proses budidaya yang sulit. Oleh sebab itu para petani kini mendapatkan bantuan binaan dari tim Polinela dan Universitas Lampung (Unila) untuk meningkatan penerimaan usaha tani berupa penyuluhan. Proses budidaya yang sulit tersebut mengakibatkan padi lebih rentan terhadap penyakit juga gagalnya panen, dan hasil produksi beras yang tidak sesuai harapan. Hal tersebut dikarenakan proses budidaya beras organik tidak menggunakan bahan-bahan kimia yaitu, pupuk kimia dan beberapa pestisida kimia. “Biasanya kalau tanaman padi konvensional dapat 4-5 ton/hektar, sedangkan mereka hanya dapat 2-3 ton/hektar” ujar Sri Handayani, S.P., M.E.P. selaku Pembina Petani yang juga Dosen Jurusan Ekonomi dan Bisnis di Polinela. Adanya penurunan jumlah atau hasil produktivitas tersebut yang akan secara langsung berdampak pada penerimaan hasil usaha tani jika beras organik memiliki harga jual yang sama dengan beras konvensional. Harga jual yang seharusnya ditentukan untuk beras organik akan lebih mahal dengan beras konvensional yaitu mencapai harga diatas Rp. 20.000,- untuk beras organik jenis premium di pasaran. Oleh karena itu, petani menjual dengan harga Rp. 12.000,-/kg sebagai antisipasi harga jualnya. Namun, masyarakat selaku konsumen kurang berkenan karena pada dasarnya masyarakat lebih mengarah pada kuantitas, dimana dengan harga Rp.12.000,- masyarakat bisa mendapatkan beras biasa sekitar sebanyak 2 kg. Atas dasar itulah petani kesulitan menjual beras organik sehingga petani menjual beras organik dengan harga yang sama dengan harga beras konvensional. “Dari situlah masalahnya, kenapa ibu dan tim dari binaan Polinela dan unila turun untuk meningkatkan aksesbilitas pasar” ujar Sri. Adapun langkah yang diberikan oleh tim binaan Polinela dan Unila adalah penyuluhan berupa teknis pengemasan, dan pemasaran. Perlunya pengemasan guna penanganan pasca panen beras organik berbeda dengan beras biasa karena beras organik yang ditanam memiliki kandugan gizi yang baik, setelah dilakukan uji proksimat dengan menggunakan kemasan yang digunakan adalah plastik High Density Poliethylene (HDPT). Kemudian pemberian penyulahan pasar, karna pasar tidak sembarangan, karena dalam beras organik dibutuhkan sertifikasi organik untuk masuk beberapa tokotoko atau pasar modern. Untuk saat ini beras organik binaan Polinela dan Unila telah merambah sejumlah toko di Bandar Lampung. Masuknya beras organik ke pasar modern ini memiliki dampak, peningkatan keuntungan bagi petani yang pada awalnya hanya dapat menjual 10-20 kg setiap bulannya, sekarang petani dapat menjual beras organik 60 kg tiap minggu. Terbentuk buku ajar untuk mahasiswa yang dibuat atas penelitian yang telah dilakukan. Untuk dapat terus berkembang diharapkan dukungan dari pemerintah daerah, CSR perusahaan, penanganan pasca panen yang modern dan publikasi terkait beras organik ini.(*Stephani)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *